Berikut ini beberapa dampak jangka pendek dan jangka panjang dari suatu tuduhan palsu seperti melansir Psych Central, hingga membuatnya layak disebut sebagai bentuk dari kekerasan
1. Dampak Jangka Pendek
Ketika seseorang dituduh melakukan sesuatu yang tidak mereka perbuat, mereka cenderung mengalami berbagai emosi yang intens, seperti:
2. Dampak Jangka Panjang
Jika tuduhan palsu terus berlanjut atau terjadi dalam hubungan yang berlangsung lama, efeknya bisa semakin dalam dan berpengaruh pada kesehatan mental serta hubungan sosial seseorang. Beberapa dampak jangka panjangnya meliputi:
Tuduhan yang terus-menerus dapat membuat seseorang mulai mempertanyakan ingatan, pemahaman, atau bahkan realitas yang mereka alami. Orang yang dituduh mungkin mulai merasa bersalah tanpa alasan yang jelas, bertanya-tanya apakah mereka telah melakukan sesuatu yang salah tanpa menyadarinya.
Tuduhan palsu yang berulang dapat menjadi bentuk penyalahgunaan psikologis, di mana korban mulai meragukan kebenaran dan merasa tergantung pada pihak yang menuduh. Orang yang menuduh dapat terus mempertanyakan ingatan atau pernyataan korban, membuatnya sulit membedakan kenyataan dan manipulasi.
Baca Juga: Viral Usai Aliando Diduga Pacari Remaja 15 Tahun, Kenali Bentuk Child Grooming
Korban dapat merasa terluka dan bingung karena orang yang dekat dengannya justru menuduhnya melakukan hal buruk. Mereka mungkin mulai berpikir bahwa pasangan atau orang lain di sekitarnya tidak mengenal dirinya dengan baik. Kepercayaan terhadap pasangan atau teman dapat terkikis, bahkan setelah hubungan tersebut berakhir.
Tuduhan yang terus berulang bisa dianggap sebagai bentuk kontrol yang berlebihan. Akibatnya, korban mungkin merasa jenuh dan mulai menarik diri secara emosional.
Dalam hubungan, korban bisa merasa terpaksa selalu membela diri, atau sebaliknya, memilih untuk mengabaikan tuduhan yang pada akhirnya merusak komunikasi.
Banyak orang menganggap bahwa marah atau diam ketika dituduh berarti seseorang bersalah. Namun, menurut sebuah analisis dari enam studi, reaksi ini justru bisa menjadi tanda ketidakbersalahan. Kemarahan dan frustrasi adalah respons alami terhadap tuduhan yang tidak berdasar, terutama jika seseorang merasa diperlakukan tidak adil.
(*)
Source | : | Parapuan |
Penulis | : | Arintha Widya |
Editor | : | Citra Narada Putri |
KOMENTAR