Parapuan.co - Publik masih membicarakan kepergian Kim Sae Ron yang meninggal dunia pada 16 Februari 2025. Dan belakangan ini, nama aktor Kim Soo Hyun turut terseret dan diduga terkait dengan penyebab kematian Kim Sae Ron.
Klaim dari kanal YouTube Garosero Research Institute (Ga Se Yeon) memicu kabar ini. Mereka menyatakan bahwa Kim Soo Hyun telah berpacaran dengan Kim Sae Ron sejak mendiang masih berusia 15 tahun, dan hubungan tersebut diduga menjadi penyebab kematiannya.
Gold Medalist, agensi yang menaungi Kim Soo Hyun, segera mengambil langkah hukum terkait penyebaran informasi oleh kanal YouTube Ga Se Yeon. Agensi tersebut membantah tuduhan pelecehan yang ditujukan kepada Kim Soo Hyun terhadap mendiang Kim Sae Ron, dan menyatakan bahwa klaim tersebut merupakan fitnah.
"Klaim yang dibuat oleh Garosero Research Institute mengenai Kim Soo Hyun di YouTube hari ini sepenuhnya salah," ungkap pihak Gold Medalist mengutip Allkpop via Parapuan. "Kami akan mempertimbangkan untuk mengambil tindakan hukum sekuat mungkin terhadap Garosero Research Institute karena telah menyebarkan informasi yang tidak benar.
"Mereka menuduh perusahaan kami dan Kim Soo Hyun berkolusi dengan YouTuber Lee Jin Ho untuk melecehkan almarhum Kim Sae Ron, bahwa Kim Soo Hyun telah berpacaran dengan almarhum Kim Sae Ron sejak ia berusia 15 tahun," tutur Gold Medalist.
"Tanggapan agensi kami terhadap kecelakaan saat ia (Kim Sae Ron) menyetir dalam keadaan mabuk tidak adil, dan bahwa manajer perusahaan kami memiliki hubungan yang dekat dengan YouTuber Lee Jin Ho," tambahnya. "Tuduhan ini, bersama dengan berbagai klaim jahat lainnya terhadap perusahaan kami dan Kim Soo Hyun, sepenuhnya salah, dan kami tidak dapat mengabaikannya."
Gold Medalist melanjutkan, "Kami sangat sedih atas berita kematian mendiang Kim Sae Ron, karena ia pernah menjadi bagian dari perusahaan kami, dan kami turut berduka cita atas kepergiannya. Tolong menahan diri untuk tidak menyebarkan, memperkuat, atau mereproduksi informasi palsu yang tidak berdasar. Akhiri penyebaran klaim yang menyesatkan."
Tuduhan Palsu Bisa Jadi Bentuk Kekerasan terhadap Perempuan
Terlepas dari persoalan yang melibatkan Kim Soo Hyun terkait mendiang Kim Sae Ron, menuduh perempuan berkencan, terlebih di usia yang masih belia bisa jadi bentuk kekerasan. Ini berlaku apakah tertuduh masih hidup maupun sudah meninggal dunia.
Baca Juga: Pernah Dialami Kim Sae Ron, Ini Pengaruh Cancel Culture terhadap Kehidupan Selebriti Korea
Bahkan, tuduhan palsu seperti menyebut perempuan (yang sudah punya pasangan) berselingkuh atau melakukan tindakan asusila lainnya juga bisa dianggap sebagai pelecehan terhadap perempuan. Pasalnya, tuduhan palsu dapat berdampak pada kondisi fisik, mental, dan mungkin juga hubungan perempuan dengan sekitarnya.
Berikut ini beberapa dampak jangka pendek dan jangka panjang dari suatu tuduhan palsu seperti melansir Psych Central, hingga membuatnya layak disebut sebagai bentuk dari kekerasan
1. Dampak Jangka Pendek
Ketika seseorang dituduh melakukan sesuatu yang tidak mereka perbuat, mereka cenderung mengalami berbagai emosi yang intens, seperti:
2. Dampak Jangka Panjang
Jika tuduhan palsu terus berlanjut atau terjadi dalam hubungan yang berlangsung lama, efeknya bisa semakin dalam dan berpengaruh pada kesehatan mental serta hubungan sosial seseorang. Beberapa dampak jangka panjangnya meliputi:
Tuduhan yang terus-menerus dapat membuat seseorang mulai mempertanyakan ingatan, pemahaman, atau bahkan realitas yang mereka alami. Orang yang dituduh mungkin mulai merasa bersalah tanpa alasan yang jelas, bertanya-tanya apakah mereka telah melakukan sesuatu yang salah tanpa menyadarinya.
Tuduhan palsu yang berulang dapat menjadi bentuk penyalahgunaan psikologis, di mana korban mulai meragukan kebenaran dan merasa tergantung pada pihak yang menuduh. Orang yang menuduh dapat terus mempertanyakan ingatan atau pernyataan korban, membuatnya sulit membedakan kenyataan dan manipulasi.
Baca Juga: Viral Usai Aliando Diduga Pacari Remaja 15 Tahun, Kenali Bentuk Child Grooming
Korban dapat merasa terluka dan bingung karena orang yang dekat dengannya justru menuduhnya melakukan hal buruk. Mereka mungkin mulai berpikir bahwa pasangan atau orang lain di sekitarnya tidak mengenal dirinya dengan baik. Kepercayaan terhadap pasangan atau teman dapat terkikis, bahkan setelah hubungan tersebut berakhir.
Tuduhan yang terus berulang bisa dianggap sebagai bentuk kontrol yang berlebihan. Akibatnya, korban mungkin merasa jenuh dan mulai menarik diri secara emosional.
Dalam hubungan, korban bisa merasa terpaksa selalu membela diri, atau sebaliknya, memilih untuk mengabaikan tuduhan yang pada akhirnya merusak komunikasi.
Banyak orang menganggap bahwa marah atau diam ketika dituduh berarti seseorang bersalah. Namun, menurut sebuah analisis dari enam studi, reaksi ini justru bisa menjadi tanda ketidakbersalahan. Kemarahan dan frustrasi adalah respons alami terhadap tuduhan yang tidak berdasar, terutama jika seseorang merasa diperlakukan tidak adil.
(*)
Source | : | Parapuan |
Penulis | : | Arintha Widya |
Editor | : | Citra Narada Putri |
KOMENTAR